Rabu, 01 Mei 2013

TUMANI[1]


sebuah cerpen

Iswan Sual



Musim panas Agustus 1906

Cahaya rembulan memendar melebar seluas jangkauan sayap langit. Tanah dimana terung[2] kami berdiri terkena pula tempiasnya. Meski pohon mangga yang rindang membentang ranting untuk menghalang. Dua obor yang bergelayut pada tiang perteduhan dirampas tugasnya. Sehingga faedahnya seolah tak ada sama sekali. Semua kami berdiam diri di luar menanti bunyi burung yang kerap jadi pembawa pesan Opo Kasuruang Wangko.[3]. Jangkrik tak satu pun berderit. Nyamuk enggan bertengger di tubuh kami. Walau hanya sekedar mencium darahnya. Seolah ingin pula menjadi saksi sejarah cikal bakal awal cerita berdirinya sebuah wanua[4] di lembah antara gunung Lolombulan dan Sinonsayang. Sudah beberapa hari kami di sini. Namun jawaban yang ditunggu tak kunjung mendekat. Untuk menjawab harap yang telah memanjat menembus angkasa.
Kami semakin resah. Bukan karena dofoma[5] kian berkurang. Itu bukan persoalan sama sekali. Area dimana kami menapakkan kedua kaki, menjamu kami dengan berkat melimpah. Yang membuat gelisah adalah bunyi sembilan kali yang dinanti dari wala[6] belum terdengar. Kami bingung. Di Mawale, dimana kawok[7] dan kalowatang[8] berkerumun pun tak diiyakan.  Seminggu kami menunggu disana. Sulit memahami pikiran si Yang Maha Kuasa. Tempat-tempat yang kami anggap layak untuk pemukiman seolah ditolak menta-menta. Padahal dekat dengan sumber air, tanahnya datar, subur dan kaya akan binatang buruan. Mengapa? Apakah karena ini tanah adalah punya orang-orang Mongondo sehingga kami dihalang menetap di sini? Bukankah Tuhan juga menjadi saksi bahwa tanah yang membentang dari sungai Ranoiapo hingga sungai Poigar telah dijadikan mahar raja Loloda Mokoagow ketika dia meminang putri Tontemboan dari Tombasian? Atau karena tanah ini telah digariskan untuk tidak dimukimi sehingga dua ratus tahun lalu ditinggalkan oleh leluhur kami? Apakah upaya tumondei[9] kami tak direstui karena Tuhan mendengar keluhan orang-orang Mongondo? Atau kami sedang diajar Tuhan tentang kesabaran...
***

Satu hari sebelumnya…


“Sia ke’[10] ,” kata Timporok kepada dua rekannya yang lain, “sa sia, cawana em painde’ na[11].”
Muntuuntu dan Wongkar tak begitu setuju. Kendati begitu mereka berdua dapat diyakinkan. Sebab riwayat sisilah keluarga telah diuraikan secara gamblang. Tambah lagi Mogogibung memang siap dijadikan rages, tumbal. Sebab baginya kematiannya adalah kehidupan bagi banyak orang. Baginya, bila pengorbanan diperlukan, maka biarlah dia orang yang pertama yang menjadi sukarelawan. Sebenarnya Timporok tak tega juga bila orang yang sedarah dengan dia disembelih di atas mesbah di depan matanya sendiri. Benak dan nuraninya bergejolak. Mengapa Opo si nimema en tana’ wo langit[12] memberikan permintaan yang tak masuk akal? Apakah tak ada cara lain untuk menguji iman dan kesetiaan kami? Kami tak habis pikir dengan tingkah laku Opo Wananatas[13]. Tapi apa boleh buat. Kami hanyalah ciptaan. Mendengar dan melakukan adalah tugas kami. Bila nuwu[14] sudah terucap, tiada lain selain taat.
***

Seminggu kemudian…
Satu malam sebelum upacara tumani pada Agustus 1906…

Mogogibung seorang diri duduk diatas sebatang kayu. Doa-doa ungkapan ketaatan telah dipanjatkan. Dia kian yakin dengan keputusannya. Matanya tak bergeser dari perapian di depannya.  Hangat rembesan api memberinya ketenangan sukma yang tak terselami. Malam ini akan jadi malam terakhir dia dan para tonaas semeja makan. Malam ini akan jadi malam terakhir ia mencium bau saguer[15], nasi dan daging tikus yang punya aroma mistis. Akhirnya waktu telah tiba. Waktu untuk membuktikan ketulusan, menjawab panggilan kemanusiaan dan awal perjalanan menuju kasendukan[16] dimana para leluhur yang berbuat baik semasa hidupnya bersemayam dan melantunkan madah memuji kebesaran Opo Kasuruang.
Di kejauhan nampak cahaya mendekat bersamaan dengan suara ramai orang berbincang riang. Mogogibung tetap berusaha tenang. Meski kedatangan mereka bermakna maut bagi dia. Dia tahu bahwa rombongan datang membawa kabar baik. Kabar tentang dimana lokasi pelaksanaan upacara tumani akan digelar dan dimana proses sumoring[17] hendak dilaksanakan. Dia pun membayangkan jalannya upacara yang penuh khidmat dan khusyuk diselenggarakan. Tembang-tembang puitis Minahasa tua diiringi melodi seruling dilantunkan. Silsilah keluarga sedari masa makarua siow, makatelu pitu, pasiowan telu[18] dilisankan. Pidato-pidato nubuatan tonaas[19] dan waliang[20] dituturkan. Tarian-tarian mistis dipertunjukkan. Dan rencana-rencana masa depan dikumandangkan. Dan bunyi manguni diperdengarkan bersamaan dengan siow lentu’[21] diisi ke dalam kurek[22]. O betapa elok dan rancak suasana itu. Alangkah syahdunya peristiwa itu. Sungguh beruntung mereka yang dapat langsung menyaksikannya!
Makanan dan minuman yang dibuatnya ditengoknya sekali lagi. Uap masih menjulang naik menembus daun pisang yang dipakai sebagai penutup. Semua telah tersaji di atas meja bambu.
“E tuama. Remepet mi’i. Tulungeng kami mangkai si anio[23],” teriak Wongkar dari kejauhan.
Mogogibung bingung. Adakah yang sakit? Atau adakah yang celaka? Benda berat apa yang sedang mereka bawa? O Amang Kasuruang copus mi’i kami[24]. Gumannya dalam hati.
“E tuama. Morakem. Co weta’ wo’o e[25].” Ini semakin membuat Mogogibung bingung. Apa yang mereka bicarakan? Segala menjadi jelas begitu seekor piton sebesar batang pohon kelapa dibentangkan di depan Sabua. Ternyata ular yang lebih dikenal dengan sebutan patola itu telah dikirim oleh Opo Kasuruang menggantikan Mogogibung. Itu adalah wujud cinta dan sayang-Nya. Sebagai imbalan dari ketulusan dan kerelaan serta kebersihan hati setiap mereka.
***

Upacara tumani pada Agustus 1906…

“O Amang Kasuruang Wangko si nemema en tana’ wo langit. Turu’an mi’i eng lalang rondor. Kengsya eng kalambot,  eng kawangker, eng kakemel en ule’ anio’, keleistyu eng kamang an do’ong anio’. Keleistyu en tou ma’awes. Keling-keling eng kamang wo itayangange eng kawenduan. O Empung…O royor[26].”
Matahari bersinar cerah. Namun kulit tak tersengat. Hanya pelu-pelu yang nampak menetes dari dahi sang waliang. Sambil memegang tawaang[27] dan kendem[28] dia bersabda. Acara berlangsung lama namun tak satupun kami jenuh. Makan minum bersama menjadi ujung dari upacara. Semenjak itu orang-orang ber-mapalus[29] merombak hutan untuk membuka lahan perkebunan. Berhari-hari, berminggu-minggu dan bertahun-tahun. Hingga akhirnya nyaris tak tersisa lagi area hutan untuk dibuka oleh generasi berikutnya. Dan wanua kami pun diberkati secara melimpah seperti termaktub dalam nuwu para tonaas. Dan kami sepakat menamai udik kami dengan Tinondeian[30]. Jusof Wongkar pun ditunjuk menjadi perewis[31].
***


[Ditulis 27 April 2013. Terinspirasi oleh  cerita yang dituturkan bapak Reine Mogogibung. Tapi cerita ini dikategorikan sebagai fiksi karena telah mendapat sentuhan rekaya imaginasi penulis]


[1] Upaya mendirikan sebuah perkampungan. (Bhs Tontemboan)
[2] Gubuk. Kata ini digunakan secara bergantian dengan kata sabua. (Bhs Tontemboan)
[3] Tuhan Maha Kuasa (Bhs Tontemboan)
[4] Kampung. Kata ini dipakai secara bergantian dengan kata ro’ong. (Bhs Tontemboan)
[5] Bekal, persediaan makan
[6] Sejenis burung. Sering dipakai secara bergantian dengan kata manguni. Burung ini diyakini oleh orang Minahasa sebagai perantara Tuhan dan manusia - pembawa pesan dari Tuhan. Itulah yang melandasi sehingga GMIM menggunakannya sebagai lambang gereja. (Bhs Tontemboan)
[7] Tikus (Bhs Tontemboan)
[8] Babi hutan (Bhs Tontemboan)
[9] Mencari kembali. Dari kata inilah nama desa Tondei. (Bhs Tontemboan)
[10] “Dia saja”. (Bhs Tontemboan)
[11]  “Kalau dia berani”. (Bhs Tontemboan)
[12]  Tuhan yang menciptakan bumi dan langit. (Bhs Tontemboan)
[13]  Tuhan. (Bhs Tontemboan)
[14]  Sabda/firman. (Bhs Tontemboan)
[15]  Tuak. Air nira. (Bhs Tontemboan)
[16]  Surga. (Bhs Tontemboan)
[17] Meniup suling. (Bhs Tontemboan)
[18] Nama rumpun keturunan Toar Lumimuut. (Bhs Tontemboan)
[19] Pemimpin. Secara harafiah berarti orang berotak (Tou nga’asan) atau orang yang memiliki pendirian yang keras dan keunggulan dalam pengetahuan tentang cara membuka lahan perkebunan, pandai mendengar bunyi burung dan mengartikan tanda-tanda, memiliki jimat yang sakti dan lain-lain. Biasanya tonaas adalah orang yang dituakan dan dapat dijadikan teladan dalam perilaku, prinsip, iman dan tutur kata serta dalam menjaga warisan dan menerapkan nilai-nilai yang telah diajarkan leluhur. (Bhs Tontemboan)
[20] Memiliki kemampuan seperti tonaas. Namun biasanya lebih mahir dalam memimpin upacara adat dan ilmu pengobatan. (Bhs Tontemboan)
[21] Sembilan patahan lidi. (Bhs Tontemboan)
[22]  Sejenis belanga yang terbuat dari tanah. (Bhs Tontemboan)
[23]  “Hai lelaki. Bergegaslah. Tolong kami untuk mengangkat ini. (Bhs Tontemboan)
[24]   Oh Tuhan kasihanilah kami. (Bhs Tontemboan)
[25]  “Hai lelaki. Cepatlah. Sebenarnya kamulah.”
[26] “Oh Bapa, Tuhan yang besar yang menciptakan bumi dan langit. Tunjukkanlah jalan yang benar. Sebagaimana panjang, besar, dan gemuknya ular ini, begitulah kiranya berkat untuk kampung ini. Begitulah kiranya banyaknya orang yang bertambah di kampung ini. Limpahkanlah berkat dan jauhkanlah kesukaran. O Tuhan…” (Bhs. Tontemboan)
[27] Sejenis tumbuhan. (Bhs. Tontemboan)
[28] Sejenis tumbuhan. (Bhs. Tontemboan)
[29] Bergotongroyong. (Bhs. Tontemboan)
[30]  Dicari kembali. Nama ini hanya bertahan selama dua tahun. Pada 1908 Tumondei diakui sebagai dusun jauh dari Raanan Baru. Dan namanya berubah menjadi Tondei. (Bhs. Tontemboan)
[31]  Wakil Ukung Tua. Pada 1914 desa Tondei berdiri sendiri sebaga satu desa. Setahun kemudian dipilihlah seorang pemuda (belum menikah) yang bernama Demas Kawengian menjadi seorang Ukung Tua. (Bhs. Tontemboan)

Selasa, 22 Januari 2013

Sebuah Laporan Perjalanan


Perjalanan ke Sisa-sisa Kerajaan Manganitu
Iswan Sual, S.S[1]

Surya yang terang benderang menguasai pulau Sangihe. Sehingga walaupun waktu telah menunjukkan pukul 17.00 tetap saja kami (saya dan Deavid Mansauda) tak mau mengurungkan niat alias nekad untuk berkunjung ke Manganitu. Suatu kecamatan yang pernah menjadi sebuah kerajaan yang kejayaannya masih terkenang hingga kini. Ketertarikkanku melihat langsung situs kerajaan tersebut muncul tatkala saya dan Deavid, seorang pria berkebangsaan Sangihe yang adalah teman kuliahku dulu, berbincang hingga larut malam pada 18 Januari 2012. “Bagaimana kalau besok kita kesana, ke tempat di mana kerajaan Manganitu pernah berdiri itu?” kataku setelah kurang lebih sejam dia mengutarakan panjang lebar tentang keberadaan suatu kerajaan yang pernah dipimpin oleh Bataha Santiago[2] tersebut. Diapun tak menolak tawaran sekaligus tantangan yang aku berikan. Besoknya kami memutuskan pergi dengan mobil. Sebuah mobil sedan berwarna hijau lumut yang sudah tua namun masih memiliki tenaga luar biasa untuk memanjat jalanan dengan tanjakkan dan kelok-kelok yang panjang.
Tak sampai setengah jam kami sudah berada di bekas kerajaan Manganitu yang sudah berubah menjadi sebuah kecamatan besar dengan 18 desa. Begitu kami berada di pusatnya, kami melewati sebuah loji[3] yang pernah ditinggali oleh seorang misionaris Jerman bernama Steller[4]. Rumah itu tepat berhadapan langsung dengan lapangan besar. Di samping rumah itu berdiri kantor Kepolisian Resor Manganitu. Tak sampai lima menit dari situ, kami sudah menemukan beberapa buah rumah tua mewah dengan gaya arsitektur Eropa. Seperti model rumah-rumah tua peninggalan orang Eropa pada umumnya yang pula pernah aku lihat di Tomohon, Tondano dan Amurang. Yang menjadi tujuan kami adalah rumah tua yang besar dengan halaman yang luas. Nampak dari depan, ketika kami baru saja turun dari kendaraan, rumah itu sudah tak berpenghuni. Tapi ada sebuah rumah kecil berdiri di sampingnya. Kesanalah saya dituntun oleh teman saya. Begitu langkah kaki pertama menginjak lantai rumah, saya sedikit terkesima. Di hadapan saya berdiri satu keluarga berwajah Eropa. Seorang pria dewasa dan seorang gadis rupawan dengan tinggi tubuh di atas rata-rata orang Indonesia. Dan di kursi yang menghadap pintu, di situ duduk seorang wanita yang sudah uzur, berambut dan berkulit putih. Setelah beberapa menit berada dalam rumah kecil dengan dinding ada terpampang foto-foto jaman dulu, saya pun mendengar percakapan yang menggunakan bahasa Sangihe. Sangat kental. Dan lama kelamaan saya pun yakin bahwa keluarga ini adalah sepenuhnya orang Sangihe bukan orang Eropa.
Saya kemudian dipersilahkan oleh pria yang adalah anak dari wanita tua itu untuk mewawancarainya tentang hal ihkwal kerajaan Manganitu. Saya mulai dengan menanyainya tentang keluarga. Narasumber yang biasa disebut Oma Mawira (Bhs. Sangihe: Nenek Putih) ternyata adalah seorang kelahiran Manganitu, Sangihe pada 28 April 1922. Nenek yang sudah tak bisa melihat dan tak jelas pendengarannya itu bernama Adelle Pauline Macahecum[5]. Ayahnya adalah seorang Jogugu (setara dengan wakil bupati sekarang) dari Tuandatu (raja) ke-17 kerajaan Manganitu, W.M.P. Mocodompis[6]. Bungsu dari dua bersaudara lainnya, Viktor Y. Macahecum[7] dan Rosalin Adolfine Macahecum. Adelle Paulina Macahecum dinikahi oleh seorang Perancis kelahiran Solo bernama Gelaume Antoinette Renard Dupont dan dikaruniahi dua orang anak. Salah satunya seorang anak lelaki yang berjabat tangan dengan kami sewaktu kami tiba. Anak lainnya, perempuan, kini bermukim di Filipina.
Menurut penuturan narasumber, W.M.P. Mocodompis adalah anak dari raja Manuel Hariraya[8] (raja ke-16).  Dikatakannya juga bahwa W.M.P. Mocodompis adalah raja yang sangat dihormati dan ditaati. Kadangkala, kendati mereka tahu bahwa rumahnya kosong, warga tetap lewat di depan rumah dengan sikap penuh hormat. Rumah yang kini nampak memprihatinkan ini pernah dipugar oleh pemerintah pusat pada tahun 1990. Sayangnya, sejak saat itu tak pernah lagi tersentuh oleh pemugaran. Bahkan pemerintah daerah pun seperti pura-pura tidak tahu dengan adanya situs itu. Yang lebih parah lagi, catatan sejarah yang sudah dibuat dengan susah payah oleh keluarga yang menjaga situs ini tidak benar-benar diperhatikan oleh pemerintah. Hal ini terbukti dengan selalu datangnya pemerintah melalui pegawai instansi terkait untuk meminta catatan sekitar kerajaan Manganitu di era raja ke-17 itu. Padahal sudah berkali-kali diberikan. Rupanya semua yang pernah diberikan hanya menjadi milik pribadi pejabat yang berkuasa. Bukan menjadi milik pemerintah daerah sebagai institusi. Tidak ada upaya nyata dari pemerintah untuk mengabadikan tulisan-tulisan penting itu ke dalam sebuah buku atau semacamnya. Sama halnya dengan rumah peninggalan kerajaan Manganitu yang kian hari semakin parah keadaannya. Untunglah, ada beberapa orang penting seperti pensiunan ABRI dan turis, budayawan, sejarawan, wartawan serta cendekiawan (dari perguruan tinggi dalam dan luar negeri) yang datang untuk turut mendengar dan mengabadikan sejarah, situs serta saksi sejarah kerajaan Manganitu.
Pemerintah kurang perhatian…. Pagar harus dibenahi supaya mereka (pengunjung) yang masuk memperoleh karcis. Dengan demikian, hasil dari itu bisa menambah pendapatan daerah,” imbuh Oma yang masih lancar berbahasa Inggris dan Belanda itu sembari menyekakan tisu di sekitar pelupuk matanya. Dia juga menambahkan bahwa soal promosi, bukanlah tugas dirinya, melainkan tugas pemerintah.
Mungkin orang-orang bertanya-tanya mengapa sampai rumah raja itu kini dimiliki oleh keluarga Dupont-Macahecum. Kepemilikan rumah itu beralih ke mereka disebabkan oleh karena Wawutowo (putri raja), Yolanda W. Mocodompis[9], yang menikah dengan seorang Belanda bernama Prof. Mr. Paul Leonard Wehri tidak memiliki keturunan. Adelle Paulina Macahecum yang masih remaja ketika itu diangkat sebagai anak oleh Sang Putri. Segala kepunyaannya pun diserahkan kepadanya.
Saat diminta pesan narasumber bagi generasi muda sekarang, dia bertutur, “Saya berpesan kepada generasi muda agar tidak lupa menghormati perjuangan orangtua. Banyak orang muda tidak tahu tentang sejarah perjuangan orangtua dulu. Harus hidup rukun…. Adat Sangir harus dipertahankan. Biar sudah sekolah di luar tapi tidak boleh melupakan adat Sangihe.”
Ketika ditanya soal adat seperti apa yang harus dipertahankan, Oma Adelle mengatakan bahwa adat perkawinan dan saling menghormati harus dijaga. Penggunaan bahasa Sangihe juga harus halus. Sebagaimana mereka dulu dalam keluarga kerajaan harus menggunakan bahasa yang halus. Misalnya untuk kata makan, yang digunakan adalah kata simokol bukan kata-kata yang kurang santun seperti kumang, kahoaseng, meliwang dan mengepade. Begitupula dengan kata tidur. Mereka diharuskan menggunakan kata halus seperti mahedang bukan metiki yang kurang sopan.
Karena malam kian larut saya dan Deavid pun mohon pamit. Dengan harapan akan kembali lagi menjemput tulisan dan mendokumentasikan foto dan berkas bernilai lainnya. Walaupun terbilang singkat waktunya, muncul perasaan puas di hati kami. Sepanjang perjalanan pulang kami t


[1] Iswan Sual adalah seorang pemerhati budaya Sulawesi Utara kelahiran Tondei, Motoling, Minahasa Selatan, pada 12 April 1983. Bergerak dalam organisasi budaya bernama Sanggar “Tumondei” Minahasa Selatan (STMS) sebagai Tonaas Wangko (Ketua Umum). Telah menulis beberapa karya sastra  diantaranya; Tinondeian (Novel, 2012), Tetewatu (Kumpulan Cerpen, diterjemahkan ke Bahasa Perancis oleh Odile Loiret, 2013). Juga menjadi editor buku Sejarah Tondei karangan C. Bujung (2012).

[2] Santiago (Bataha Santiago) adalah raja ke-3 kerajaan Manganitu. Bertahta pada tahun 1670-1675. Ia adalah raja yang mengalahkan Belanda dengan gagah berani dalam perang Batumbakara di pantai Manganitu dengan menenggelamkan kapal-kapal perang Belanda. Tapi kemudian ia ditangkap dan dihukum gantung (versi lain: dipancung) di Tanjung Tahuna tahun 1675. Oleh pemerintah Indonesia ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan namanya diabadikan pada Korem 131 Santiago.

[3] Loji adalah rumah panggung besar khas Minahasa yang telah mendapat sentuhan gaya Eropa yang banyak dibuat di jaman Belanda. Sampai sekarang masih terdapat banyak loji di tanah Minahasa dan Sangihe.

[4] Steller, missionaris Zending Grossnas Jerman, bernama lengkap E.T. Steller mengabdi selama 40 tahun  di Sangihe. Sejak 25 Juni 1857 hingga 3 Januari 1897. Dia banyak menerima anak pribumi dalam rumahnya untuk dilatih dan diajar berbagai kemahiran kerja, seperti perbengkelan mesin, bercocok tanam dalam teknik modern, arsitektur, ilmu perawatan, dan guru. Di kemudian hari usahanya digantikan oleh anaknya yang bernama Mr. K.G.K. Steller. E.T. Steller dikuburkan di Manganitu, Sangihe, di samping makam istrinya. Sejak datang pertama ia tak lagi melihat negerinya. Ia menganggap Sangihe sebagai tanah airnya yang baru.

[5] Adelle Paulina Macahecum pernah mengenyam pendidikan di HIS Tahuna dan Mulo Tomohon. Pada tahun 1950 bekerja di Makassar  dan kemudian menjadi kepala sekolah di Sekolah Kepandaian Putri di Tamako. Dia turut dipenjara oleh Jepang karena kedekatan dengan keluarga kerajaan dan diduga orang Belanda karena berkulit putih. Neneknya, Belina, adalah saudara perempuan dari W.M.P. Mocodompis (Raja ke-17 kerajaan Manganitu).

[6] Raja W.M.P. Mocodompis adalah raja ke-17 (raja terakhir) kerajaan Manganitu. Dia ditangkap dan hendak dipancung karena diduga memata-matai Jepang. Tapi karena kebal senjata tajam dia kemudian dikubur hidup-hidup oleh pemerintah Jepang bersama ayah dari Adelle Paulina Macahecum. Sepeninggal raja, rumah dan isinya diserahkan kepada pemerintah (camat pada waktu itu bermarga Tiwa. Berasal dari Motoling, Minahasa Selatan) untuk dijaga. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Nyaris seisi rumah diambil dan ditelantarkan. Sang Boki  (permaisuri) pun, Louisa Ella Kansil, ditinggal begitu saja di rumah.

[7] Viktor Y. Macahecum adalah seorang Hakim pertama di Sangihe. Di jamannya dia mendapatkan pekerjaan karena menunjukkan slagbom (silsilah keluarga) dimana umumnya pada waktu itu dijadikan sebagai bukti bahwa seseorang berasal dari keluarga baik-baik.

[8] Manuel Hariraya adalah raja ke-16 kerajaan Manganitu. Dia memiliki tiga orang anak yang bernama Belina, Elizabet, dan W.M.P. Mocodompis.

[9] Yolanda W. Mocodompis pernah memberikan kursus ilmu hukum kepada seorang yang bermarga Pondaag. Kelak dia menjadi seorang notaris yang cukup dikenal. Meskipun telah menikah dengan seorang Belanda tapi Yolanda W. Mokodompis tidak mengubah kewarganegaraannya.