Senin, 12 Agustus 2013

PAPENDANGAN SANGGAR “TUMONDEI” DIBANJIRI PESERTA

oleh Iswan Sual

Bertempat di Balai Pertemuan Umum desa Tondei Dua, pada 8, 9, dan 10 Agustus 2013, Sanggar “Tumondei” Minahasa Selatan (STMS) melaksanakan Papendangan, Pelatihan dan Pendidikan Dasar (PELDIKDAS) I. Kegiatan dibuka dengan ibadah yang kental dengan adat Minahasa. Tarian Kabasaran yang ditampilkan pemuda-pemuda Tondei turut menyemarakannya. PELDIKDAS yang tahun ini diberi tema: “Tumondei en aram si aienepem” (Menelusuri Nilai Budaya Yang Telah Terbenam) merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan tujuan dari organisasi, yakni :
  1. Membentuk manusia yang mandiri, berbudi pekerti luhur, berwawasan budaya dan mencintai ilmu pengetahuan.
  2. Menanamkan nilai-nilai kreatifitas, kebersamaan, kepedulian terhadap budaya lokal dan global.
  3. Mengembangkan potensi yang ada dalam diri setiap anggota maupun bukan anggota.
  4. Membekali anggota dan bukan anggota dengan keterampilan kecakapan hidup.
  5. Menunjang program pemerintah dalam hal kebudayaan.

Awalnya, penyelenggara tidak menduga bila kegiatan ini akan dihadiri banyak peserta. Hal ini diperkuat oleh asumsi adanya kecenderungan sekarang dimana generasi muda telah nyaris berhasil ditakhlukan oleh kebudayaan populer yang hanya oleh dan untuk pasar. Dengan surat keputusan Badan Pengurus Nomor: 030/int/bpstms/8/2013, telah dilantik 76 anggota baru pada hari terakhir pelaksanaan PELDIKDAS tersebut. Sertifikat langsung pula diserahkan oleh badan pengurus.
Selama tiga hari peserta mengikuti jadwal dengan materi yang padat. Topik pembicaraan diantaranya ialah mengenai kebudayaan, keminahasaan, teater, strategi membangun jaringan, analisa sosial, retorika, manajemen konflik dan lain sebagainya. Meskipun materi tergolong berat, peserta yang berumur SD dan SMP tetap mengikutinya dengan sabar. Bahkan mereka nampak begitu bersemangat tatkalah beberapa kali diselipi pembacaan puisi karya anggota Sanggar dan pemutaran lagu kabasaran dan lagu Minahasa lainnya.
Konsumsi camu-camu (makan dan minum) ditanggung secara mapalus. Peserta dan pengurus bahu membahu menanggungnya. Makan siang di rumah masing-masing.
Tapi, sangat disayangkan, tidak ada satu pun pimpinan gereja atau aparat pemerintah yang hadir menyaksikan acara tersebut. Padahal, para tokoh gereja, masyarakat dan aparat desa diundang untuk hadir dalam acara pembukaan. Ini menunjukkan kurang perhatiannya generasi tua dalam mendorong dan menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal. Barangkali inilah penyebab sehingga kearifan lokal dan kebudayaan Minahasa kian habis terkikis. Kebanggaan akan identitas diri nyaris tak ada lagi. Kebanyakan orang sekarang bangga dengan nilai dan produk yang diimpor dari luar. Generasi kini umumnya telah mengalami krisis identitas yang kronis. Kalau sudah begitu, bagaimana nanti?
Tonaas Wangko Sanggar “Tumondei” Minahasa Selatan, Iswan Sual, S.S dalam sambutannya di upacara pelantikan anggota menyatakan harapannya terhadap para anggota baru. Dia mendorong agar anggota baru, apapun latar belakangnya, mesti senantiasa terus belajar melengkapi diri sehingga dapat melakukan kerja-kerja kebudayaan yang lebih giat demi pengembangan tou Minahasa. Pernyataan ini turut pula diperkuat oleh Glendi M. Wongkar dan Yanli Sengkey yang masing-masing adalah Tonaas dan Simapatic Sanggar “Tumondei” Minahasa Selatan.